Assalamualaikum :)
First Posting, tertarik buat nuangin pengalaman-pengalaman pribadi...
Ini tentang nenekku yang punya sedikit "kelebihan".
Entah dari mana dan sejak kapan nenekku mempunyai kelebihan ini.
Dia semacam mempunyai indra ke-6.
Cerita ini aku dapat dari ibuku saat aku bertanya "Bu, ninin bisa kayak gitu dari ibu masih kecil??".
Ninin adalah panggilanku terhadap nenek.
Ibu ku menjawab, "Engga, ibu juga ga tau sebenernya mulai dari kapan, kalo di kira-kira ya pas ibu udah SMA"
Dan setelah itu akupun bertanya bagaimana awal mulanya ibuku mengetahuinya, dan ibuku pun bercerita...
Kurang lebih, begini ceritanya...
Tidak seperti biasanya, nenekku sering melamun dan seperti sedang melihat sesuatu secara serius. Terkadang dia bicara sendiri dan pandangannya kosong. Tak jarang pula dia mengucapkan sesuatu seperti firasat dan benar terjadi.
Ya, berhubung perkataan nenekku yang benar terjadi itu hanyalah hal-hal kecil, ibuku dan orang-orang sekitar menilai bahwa itu hanyalah suatu kebetulan.
Sampai pada suatu saat,
"Li, burukeun meuli jang salametan !!" (Li, cepet beli buat selametan) ucap nenekku yang terperanjak dari ketenangannya menuju kepanikan yang luar biasa. Li : Ibuku, Eli.
Ibuku pun hanya memandangi nenekku dengan tampang kebingungan karena memang sebelumnya suasana sangatlah tenang. Ibuku pun bertanya "Jang naon ai emah???" (Buat apa bu???). "Eta si AA bakal cilaka gede! burukeun, ngke dibagikeun ka tatangga. Ulah nepikeun liwat jam xx" (Itu si AA -pacar ibuku saat itu, dn saat ini sudah menjadi suaminya dan menjadi ayahku- bakal kecelakaan besar, cepetan! nanti dibagiin ke tetangga. Jangan sampai lewat jam xx -aku lupa jam nya-)
Dengan masih bertampang kebingungan ibuku pun segera bergegas dan mulai cemas.
Singkat cerita, sajian selametanpun sudah selsai dibuat dan dibagi. Nenekku nampak tenang dan lega.
Dan pada sore di hari yang sama, ayahku mengunjungi nenek dan ibuku dan bercerita bahwa atasannya dan teman kerjanya kecelakaan besar yang mengakibatkan kaki atasannya putus dan kaki temannya yang mengantar itu patah parah. Padahal sebelumnya, setelat apapun ayahku datang, si atasan sama sekali tidak akan pergi jika bukan ayahku yang mengantar, dan merekapun berpapasan dan saling sapa di jalan, namun si atasan bilang sudah kepalang tanggung.
Subhanallah...
Dari situ Ibuku menilai bahwa firasat nenekku bukanlah sekedar kebetulan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar